Lilypie 4th Birthday Ticker
Showing posts with label About life. Show all posts
Showing posts with label About life. Show all posts

Monday, January 31, 2011

It's been so long

My gawd, it has been over a year hasn't it?
I have moved to a new office, the same industry, different color

Less traveling but that does not mean I come home when the sun is still shining, it is pretty much similar in that department.

We still go home when sun is set somewhere in the west, real set :)

Anyhow good to write something meaningless just to proof I am alive

Will travel in the next 3 days, working hard on the report now so no one bugs me on the same while I am on leave hehehehe

Friday, July 18, 2008

Reminiscing The Past

Pernah punya lagu yang selalu bikin lo smile and flashed back to the old days..when you were still pure (hihihi okay no such a thing) anyway I am serious about this song thing, I have a lot of songs that reminds me of the good things and the bad things in the past. This song is one of them, I do not say that this song reminds me of bad things happened in the past but about something in between.

You fell in love (ya rite like I knew what love is about at that time..) then you realised that you were being fooled, your life was miserable not that miserable but miserable enough. And when I listen to this, the song was at that time was a good representation of how I felt.

I have heard this song many times before through a very best friend of mine, Erfan a true fan of The Cure (unfortunately he is not with us anymore, May Allah bless his soul) who dragged me to become The Cure lover but I did not associate it with any events going on in my life at the time until years after that.


A Letter To Elise
smith/gallup/thompson/williams/bamonte

oh elise it doesn't matter what you say
i just can't stay here every yesterday
like keep on acting out the same
the way we act out
every way to smile forget
and make-believe we never needed
any more than this
any more than this

oh elise it doesn't matter what you do
i know i'll never really get inside of you
to make your eyes catch fire the way they should
the way the blue could pull me in
if they only would if they only would
at least i'd lose this sense of sensing
something else that hides away

from me and you
there're worlds to part with
aching looks and breaking hearts
and all the prayers your hands can make
oh i just take as much as you can throw
and then throw it all away
oh i throw it all away
like throwing faces at the sky
like throwing arms round
yesterday
i stood and stared
wide-eyed in front of you
and the face i saw looked back
the way i wanted to
but i just can't hold my tears away the way you do
elise believe i never wanted this

i thought this time i'd keep all of my promises
i thought you were the girl I always dreamed about
but i let the dream go and the promises broke
and the make-believe ran out...

oh elise it doesn't matter what you say
i just can't stay here every yesterday
like keep on acting out the same the way we act out
every way to smile forget and make-believe
we never needed any more than this
any more than this
and every time i try to pick it up like falling sand

as fast as i pick it up it suns away
through my clutching hands
but there's nothing else i can really do
there's nothing else i can really do
at all...


A Letter to Elise is the third and final single taken from the album Wish from The Cure in 1992 according to Wikipedia and it is not played very often.

I do not know why I like this song very much, I never get bored of it buat gw artinya dalem aja gitu according to my interpretation to this song gw juga belum nanya sih ama yang buat. Lagu ini emang tentang Cinta and choices that you make in order to get the right Love I guess (bener apa ngga ya booo) tapi Ngga tau ya kadang denger lagu ini antara senang dan sedih and makes me want to go back to that certain point in my life and going through my stupid love life again you know how wonderful sometimes being in a crossroad and just lost in it and be stupid, hehehehe you just do not do that kind of thing anymore nowadays ya iyalah secara gw udah merit, kalo iya selingkuh dong namanya...

Gila ya setiap kali dengerin lagu ini gw jadi berasanya gimana gitu, berasa bego berasa I am lucky tapi ngga pingin juga ngerubah what had happened, kalo ngga ada kejadian-kejadian circa that time mungkin gw ngga jadi seperti gw sekarang.

Anyway.....a good peep to the past and how I miss it now

Friday, May 23, 2008

"To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice"


Saya buka kembali buku hidup saya, sebagai bahan perenungan bagi para ORANG TUA...

Tahun yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu Saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang Duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.

Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun.

Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika "Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya menggeleng.

"Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya.
"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.
Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya. Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) di mana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140-160.

Ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-rata Cerdas). Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...." Dikapun menjawab: "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja". Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjawalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya.

Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit.

Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana: diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

Ketika psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku..." Dikapun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu" Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..." Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya" Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras,disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak..." Dikapun menjawab "Tidak mempersalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa" Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan Untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang ....." Dikapun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja". Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang .....", Dikapun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahan nya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku". Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari........ " Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar " Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku" Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari....." Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata "tersenyum" Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku. ..." Dikapun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus" Saya tersentak sekali ! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang atau Le. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki. Sedangkan Le dari kata "Tole". Waktu itu saya merasa bahwa panggilan tersebut wajar-wajar saja, karena hal itu merupakan sesuatu yang lumrah di kalangan masyarakat Jawa.

Ketika psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku memanggilku .." Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli". Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja disebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choise" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan". Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.

Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.

Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para ayah (orang tua) tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para ayah harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat Tuhan.

Untuk menyambut Peringatan Hari Anak Nasional Tanggal 23 Juli 2008, saya ingin mengingatkan kembali kepada para orang tua supaya selalu berpikir, bersikap dan melakukan hal-hal yang dikehendaki Tuhan.

Sumber: Ditulis oleh Lesminingtyas

Mmm is this what we want for our child?

Tuesday, May 06, 2008

Reminiscence of the past


Okay..it's been a busy day..meeting with a very nice and polite client (okay it was only like 45 minutes or less I guess..) and trying to fix the dicussion (nearly there) and have sent an RFQ to China (was it China or Hongkong, damned they sounded the same) and still managed to peep on my facebook, downloaded 3 songs (Mas Ar would kill me if he knew about this) and browsed through my friends' blog and I ended up at Deki's Blog and look what I have found!! an old photos of us in kindie when we were doing this manasik Haji thing, Amazing aye.....looking at the photo reminds me of the past I just can't believe I am this old now hehehehehe

It is over...

Why good days gone so fast? you can't really recall what have been happening for the last 2 weeks, of course not, 2 weeks have been very cruisy....relax...and it will be over soon..like today soon because all the bosses are coming in (sigh) OHHHHHHH and projects are lining up already...
IT IS NOT FAIR!!!

Okay now...calm down...be professional...inhale and exhale....

Friday, May 02, 2008

Just (I'd like it to be) an ordinary day

Okay..I think I am not a writer material am I...like I only post to this blog only when I am sort of lost all the fun from browsing the net.
Okay..usually I would say that I had been so tight up at work but okay I am being honest that it's been very cruisy weeks I hope that it will still be cruisy for weeks ahead..in my dream!!! projects are lining up to be commissioned, another trip to whatever land...

And yes..as a mother, it's our nature to brag about our children..My Cica is the cutest girl in the whole damned world (right this is a bit too much) okay well she's progressing really well somewhat a little bit out of control, GOD I am so desperate, she knows how to push our buttons by being so stubborn (which Mom said it is "so Intan") and with her password "kalo gitu nanti Cica-nya nangiss deeh" I'm trying to figure out how to mend this stubborness and also to minimize the effect of her knowing that she is so "Oh precious" to her parents and family. Okay one step at a time. I Love her dearly oh and another thing is she is currently going through an oedipus complex where I as her mother seen as the most precious thing in her life ha ha ha ha ha darling Mama feels honored.

Okay Im just gonna write the summary about what have been happening in my life the since beginning of this year specifically the last couple of months:

My hubby has been so caught up with his "bro-calling" new mates whose accidentally (surprised!!) happen to have the same interest in BAJAJ PULSAR and he's been obsessed (not too chronic thank God) to his lovely bike...

Me? Okay apart from having to sign (I think more of a FORCED rather than an offer) this contract paper because I opted to go for Training in Malaysia (GOD that was dead boring-meeting old friends and enjoying glasses of margaritas are much better-training) but the food especially at this fusion resto in the posh mall next to the boulevard mall was kind of super!! is still looking for a job, another one..I dunno I believe that somewhat I am not underpaid...but why do I feel like I am like every single month especially after sending all those lovely money to all the envelopes where they belong shit aye...

Anyhow..need a holiday aye..but not now since we are still struggling with the finance thingy and all the lovely life problems of our lovely big family (OOOHHH THAT IS JUST WONDERFUL..) but we are here smiling our heart out.

but hey with or without holiday..I guess my life has been pretty much cool the best if I count Cica in (without the famous tantrum)..well like Felie and Joey said.."Yes it is not as cool as our life used to be but hey we are standing on our own both damned feet bebeh" and isn't that something to celebrate?

Monday, September 17, 2007

Earthquake in Padang

Yes, another job landed me in Padang again, I was eager to go by means I could go and see Si Iphie despite the fact that I have to spend another 2 days with out of this world client. GOD they are idiots!!.

anyway..after a long day of work and slept through until 10 am in the morning, finally I met Si Iphie the pregnant girl, she was well and I could tell was very happy and I was happy as well especially since she's planning to go back to Jakarta. I met her mother as well who was there with Ibu and Vicky.

The I headed off to the airport, Garuda was delayed...then this thing happened...
the earthquake, later I learnt that it was big 7,9 richter scale...the whole airport was shaking badly...That was the first time I felt really scared and think about Cica and Yufi, my family...
gilaa yaa akhirnya sampe juga keluar ruangan dan lari ke runway dengan susah payah setelah melewati orang-orang yang juga panik kayak gue......

at the end of the day terima kasih ya Allah untuk menyelamatkan saya dari marabahaya.